PADA zaman dahulu, hiduplah seorang
laki-laki yang bernama Pak Pandir. Pak Pandir tinggal bersama istri dan putra
tunggalnya yang masih kecil. Setiap harinya Pak Pandir memenuhi kebutuhannya
dengan cara memancing dan menangkap burung.
Suatu hari Pak Pandir pergi menangkap
burung punai, Setelah mendapatkan seekor burung, ia langsung melepasnya sambil
berkata, “Hai burung, pergilah kau ke rumahku. Temuilah Mak Mandir dan mintalah
ia menyembelihmu untuk dimasak sebagai lauk makan siang ini.”. Hal yang sama
juga dilakukan Pak Pandir pada setiap burung yang berhasil ia tangkap. Tujuh
burung yang ia dapatkan selalu dilepaskan.
Setelah merasa lelah dan Pak Pandir
sudah merasakan lapar, ia memutuskan untuk pulang ke rumah. Setibanya di rumah,
Pak Pandir segera menemui istrinya yang sedang memasak di dapur.
“Mak, mana pindang burung punai tadi?” tanya Pak Pandir dengan semangat.
Mak Mandir bingung dengan karena tidak tahu apa yang dimaksudkan suaminya. Ia balik bertanya kepada suaminya.
“Mak, mana pindang burung punai tadi?” tanya Pak Pandir dengan semangat.
Mak Mandir bingung dengan karena tidak tahu apa yang dimaksudkan suaminya. Ia balik bertanya kepada suaminya.
“Apa yang kamu maksudkan, Pak?”.
“Tadi saya menangkap burung. Setiap
burung yang berhasil saya tangkap saya suruh ke sini untuk disembelih dan
dimasak olehmu,” jawab Pak Pandir santai dengan cara bicaranya cedal.
“Ya ampun Pak, alangkah bodohnya kamu.
Yang namanya burung itu kalau dilepaskan pasti mereka kabur,” keluh istrinya
kesal. Pak
Pandir hanya diam saja. Ia duduk tanpa rasa bersalah mendengar ucapan istrinya.
Keesokan harinya Pak Pandir kembali pergi menangkap burung di hutan.
“Kalau sudah dapat burungnya, jangan
lupa diikatkan di kayu atau di kaki Bapak supaya burungnya tidak terbang!”
pesan istrinya sebelum Pak Pandir pergi.
“Iya,” jawab Pak Pandir singkat seraya
menuju hutan.
Belum lama berburu, sudah ada seekor burung yang berhasil ia dapatkan. Sesuai pesan Mak Mandir, ia segera mengikatkan burung yang ditangkapnya di kakinya. Selanjutnya banyak sekali burung yang berhasil yang ia tangkap. Selain mengikatkan burung yang didapatnya pada kakinya, ia juga mengikatkan pada tangan dan kedua kakinya. Karena begitu banyak burung yang dia ikatkan pada tubuhnya, Pak Pandir pun terbang jauh oleh burung-burung itu. Akan tetapi, karena semakin lama menahan tubuh Pak Pandir yang berat, tali-tali pengikat burung Pak Pandir tersebut putus dan lepas. Akibatnya, Pak Pandir terjatuh.
Pak Pandir sangat beruntung. Ia jatuh di atas istana raja dan dilihat oleh putri tunggal raja.
Belum lama berburu, sudah ada seekor burung yang berhasil ia dapatkan. Sesuai pesan Mak Mandir, ia segera mengikatkan burung yang ditangkapnya di kakinya. Selanjutnya banyak sekali burung yang berhasil yang ia tangkap. Selain mengikatkan burung yang didapatnya pada kakinya, ia juga mengikatkan pada tangan dan kedua kakinya. Karena begitu banyak burung yang dia ikatkan pada tubuhnya, Pak Pandir pun terbang jauh oleh burung-burung itu. Akan tetapi, karena semakin lama menahan tubuh Pak Pandir yang berat, tali-tali pengikat burung Pak Pandir tersebut putus dan lepas. Akibatnya, Pak Pandir terjatuh.
Pak Pandir sangat beruntung. Ia jatuh di atas istana raja dan dilihat oleh putri tunggal raja.
“Kak, apa pekerjaan kakak di sana?
Dari mana kakak berasal?” tanya Putri dengan ramah.
“Oh, kakak dari kahyangan,” jawab Pak
Pandir berbohong. Sementara di kakinya masih ada tali-tali bekas ikatan
burung-burung tadi. Tali-tali itu pun langsung dilepasnya karena ia malu dan
takut ketahuan putri. Putri pun menyuruh Pak Pandir turun dan mengajaknya
menghadap raja.
“Apa benar kamu berasal dari
kahyangan?” tanya Raja kepada Pak Pandir untuk meyakinkan.
“Iya,” jawab Pak Pandir kembali
berbohong.
Hal Ini merupakan suatu kebahagiaan bagi raja dan putrinya. Selama ini raja menunggu-nunggu kehadiran seorang dari kahyangan untuk dinikahkan dengan putrinya. Raja pun berniat untuk menikahkan Pak Pandir dengan putrinya.
Beberapa hari sebelum pesta pernikahan digelar, raja memerintahkan prajuritnya untuk mengundang warga-warga dari tujuh desa ke timur, tujuh desa ke barat, tujuh desa ke utara, dan tujuh desa ke selatan.
Hal Ini merupakan suatu kebahagiaan bagi raja dan putrinya. Selama ini raja menunggu-nunggu kehadiran seorang dari kahyangan untuk dinikahkan dengan putrinya. Raja pun berniat untuk menikahkan Pak Pandir dengan putrinya.
Beberapa hari sebelum pesta pernikahan digelar, raja memerintahkan prajuritnya untuk mengundang warga-warga dari tujuh desa ke timur, tujuh desa ke barat, tujuh desa ke utara, dan tujuh desa ke selatan.
Pesta pun digelar selama tujuh hari
tujuh malam. Setelah selesai pesta, pagi harinya Pak Pandir bangun dan membuat
api di bawah istana raja sambil melamun. Dalam lamunannya Pak Pandir teringat
dengan istri dan anaknya.
“Bagaimana kabar anak dan istriku?”
gumamnya dengan keras.
Raja pun mendengar ucapan Pak Pandir tersebut.
Raja pun mendengar ucapan Pak Pandir tersebut.
“Hah, ternyata kamu Pak Pandir, bukan
pangeran dari kahyangan,” tegur Raja dengan keras.
“Benar, Raja.”
“Berarti engkau sudah membohongiku.
Engkau harus dihukum seberat-beratnya,” hardik raja dengan gusarnya.
Karena pada zaman itu tidak ada hukum
yang berlaku, Raja menghukum Pak Pandir dengan cara menguliti bagian atas
kepala Pak Pandir. Pak Pandir menjerit kesakitan. Kulit kepalanya terlepas.
Darah bercucuran keluar. Kepalanya jadi berwarna merah berlumuran darah.
Dalam kondisi yang seperti itu, Pak
Pandir pulang ke rumahnya. Ia berjalan dengan dengan langkah tergopoh-gopoh dan
menahan rasa perih di kepalanya.
Ketika sudah mendekati rumahnya, dari kejauhan anaknya melihat Pak Pandir pulang. Anaknya pun bersorang kegirangan,
Ketika sudah mendekati rumahnya, dari kejauhan anaknya melihat Pak Pandir pulang. Anaknya pun bersorang kegirangan,
“Hore… hore bapak pulang! Bapak pulang
pakai peci merah.”
“Dasar keparat! Tidak tahu apa kepala
orang sakit perih begini dibilang peci merah!” gerutu Pak Pandir sambil terus
berjalan mendekati rumahnya.
“Alhamdulillah, bapak pulang. Bapak
pulang dengan memakai peci merah,” seru Mak Mandir bahagia. Sampai di rumah, Pak
Pandir langsung duduk di teras rumahnya karena kelelahan.
“Apa yang terjadi dengan kepalamu,
Pak?” tanya istrinya setelah melihat kondisi suaminya dari dekat. Istrinya
segera membersihkan kepala Pak Pandir, mengobatinya, dan membalut kepala Pak
Pandir. Di
teras rumahnya Pak Pandir beristirahat sambil menceritakan apa yang dialaminya
kepada anak dan istrinya.
“Alangkah bodohnya kamu, Pak! jangan
mau disakiti orang seperti itu!” sesal istrinya.
“Tidak apa Mak, yang penting sekarang
saya sudah selamat. Saya senang sekarang kita bisa berkumpul lagi,” jawab Pak
Pandir pasrah dan sekaligus bahagia. Mereka sekeluarga pun berbahagia karena dapat
berkumpul bersama lagi.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar