Namanya
saja Pak Pandir. Tentu ia pandir alias bodoh. Istrinya sering merasa kesal
dibuatnya. Sewaktu istrinya sakit dan minta supaya Pak Pandir memanggiIkan
dukun, Pak Pandir malah membawa kambing. Ceritanya begini. Istrinya meminta Pak
Pandir lekas memanggil dukun untuk mengobati sakitnya.
"Dukun? Siapa dia, dan bagaimana bentuknya?" tanya Pak Pandir.
"Dukun itu orang yang sudah tua dan berjanggut," kata istrinya
bercampur kesal.
"Oooh yang berjanggut," kata Pak Pandir senang.
Maka dicarilah "yang berjangut" itu. Di kebun singkong ia temui
seekor kambing yang berjanggut.
"Nah, ini rupanya si dukun yang diminta istriku!" serunya.
Lalu ia hampiri kambing.itu sambil bertanya, "Hai, kamu ini dukun,
ya?"
"Mbeeek ... mbeekk!" si kambing mengembik.
"Oh, baik, baik!" Pak Pandir mencoba menirukan suara kambing.
"Ayo ikut ke rumahku! Lalu kau obati istriku biar lekas sembuh, ya!"
katanya dengan menangkap dan menyeret si kambing.
Tentu saja setelah ia sampai di rumah, istrinya marah-marah. Karena yang
ditunggunya adalah Pak Dukun, bukan kambing.
Nah, pada suatu pagi Pak Pandir menyiapkan kail. Ia ingin pergi memancing.
"Aku ingin pergi memancing, apa umpannya, ya?" ujarnya kepada
istrinya.
"Oh gampang. Kau carilah belalang rusa buat umpannya," jawab istri
Pak Pandir.
"Baiklah kalau begitu."
Tetapi, yang diingat-ingat oleh Pak Pandir adalah rusa! Maka kemudian yang
dicarinya bukanlah belalang rusa, tetapi rusa. Begitu ia melihat rusa sedang
duduk tenang-tenang di dekat semak-semak, ia menyergap binatang itu dan segera
mengikatnya. Rusa itu meronta-ronta.
Pak Pandir mengerahkan seluruh tenaganya untuk mengikat hewan itu. Keringatnya
meleleh napasnya sesak.
Setelah rusa diikatnya, lalu dibawanya ke sungai.
"Ayo, sekarang kau jadi umpan ikan," katanya sendirian.
Dia siapkan pancingnya. Mata kailnya cukup besar. Tali pancing pun panjang.
Dengan tenang ia tusukkan mata kail itu ke pantat rusa. Apa yang terjadi?
Rusa itu kesakitan dan memberontak. Membuyarkan semua lilitan tubuhnya. Mereka
berdua tercebur ke dalam air dan berebutan menyelamatkan diri ke tepian sungai.
Sama-sama
basah kuyup dan sama-sama bingung. Mungkin si rusa menyangka Pak Pandir orang
yang sinting. Sedang Pak Pandir mengira bahwa si rusa umpan ikan yang susah
dipakai memancing.
Sumber :
Majalah Bobo
wkwkwk
BalasHapus