Kuliah? Jadi Mahasiswa, itu adalah impian dari setiap siswa SMA yang sudah kelas 3. Banyak kisah tentang melanjutkan kuliah terjadi di Dunia. Jika saja kita mau menulis semua kisahnya maka akan banyak senyum, tawa bahkan air mata yang akan tercipta. Ya, bagi mereka yang berada pada ekonomi menengah ke atas, maka hanya akan ada senyum dan tawa yang akan terasa saat hendak melanjutkan ke jenjang perkuliaha. Namun jika kita melihat ke keluarga menengah ke bawah, maka
akan didapati linangan air mata.
Selalu saja tentang biaya yang menjadi persoalan dihadapan calon Mahasiswa. Mungkin Doni salah satunya. Kisahnya cukup mengispirasi penulis, sehingga penulis merasa kisah ini perlu untuk digambarkan dalam tulisan ini. Berikut adalah kisahnya.
-------------
Doni, seorang anak desa yang berasal dari keluarga kurang mampu. Dia baru saja melewati Ujian Akhir Sekolah. Semangat nya untuk melanjutkan pendidikan ke bangku perkuliahan sangatlah tinggi. Namun, kondisi ekonomi keluarga yang kurang mendukung membuatnya hampir patah semangat.
Dia telah melakukan pendaftaran ke salahsatu Perguruan Tinggi di Provinsinya yaitu Politeknik Caltek Riau. Politeknik Caltek Riau adalah perguruan tinggi swasta dengan biaya yang cukup mahal. Awalnya Doni melakukan pendaftaran PSUD sekaligus beasiswa di Politeknik Caltek Riau. Akan tetapi beasiswa yang diajukannya tidak lulus, Doni hanya lulus PSUD. Dia diterima masuk Politeknik Caltek Riau hanya dengan seleksi nilai raport sekolah.
Banyak orang orang desa yang mencibir pilihan Doni. Maklum, jurusan yang di ambil Doni adalah jurusan Teknik yang hanya bertitle D4. banyak yang berkata "kenapa tidak mengambil S1 aja? nanggung ngambil D4". Begitulah perkataan orang-orang desa yang belum mengerti dengan pendidikan vokasi. Mereka hanya melihat title Sarjananya saja bukan melihat kualitas sarjananya.
Tak hanya sekedar itu, omongan tetangga bahkan keluarga lain yang tak mendukung keinginan Doni menambah berat beban pikirannya. Ada pamannya yang berkata "Ngapain kuliah jauh ke kota mahal-mahal, mending kuliah sabtu minggu aja di tempat anak ku kuliah". Tetangga pun ikut berkomentar " Alah,,, ngapain kuliah? di kampung ini aja sudah menyampah SP (Sarjana pengangguran), ujung-ujungnya nantik juga jadi SP". Dan masih banyak lagi teman, saudara, tentangga yang lain yang tak mensuport keinginan Doni.
Bahkan sampai ada guru bidang study yang berkata kepada Doni saat sedang jam istirahat di sekolahnya. "Kamu jadi mau lanjut kuliah di PCR itu Don?". "iya buk, insyaallah" jawab Doni. Guru itu pun berkata lagi, "sudah kamu pikirkan baik-baik? ingat keluarga mu susah. ayah kamu cuma Penderes karet. tidak kamu kasihan sama mereka. kuliah itu tidak murah, apalagi di PCR itu". Perkataan guru itu membuat Doni bungkam. Tak disangkanya sang guru akan berkata demikian. Doni hanya terdiam dan tak berkata apa-apa lagi sampai sang guru tersebut pergi meninggalkannya sembari berkata, "coba pikir-pikir lagi nak, mumpung belum terlambat".
Hari-hari terakhir Doni di sekolah semakin tak bersemangat. Disaat harapan nya hampir pupus, seorang guru BK di sekolahnya memberikan dia semangat lagi. Guru itu bercerita akan seorang senior yang telah diterima di suatu Perguruan tinggi swasta dengan beasiswa full. Bukan hanya itu, senior tersebut juga telah mendapat kontrak dari salah satu perusahaan ternama karena kecerdasannya. Guru BK tersebut memotivasi Doni dengan berbagai hal. Dia menyarankan kepada Doni untuk mencari informasi mengenai beasiswa internal di kampus PCR di Internet.
Berkat dukungan seorang guru BK dan beberapa orang sahabat Doni bisa melewati masa-masa sulit tersebut. Walaupun dengan susah paya orang tua Doni menyanggupi intuk mencarikan biaya yang dibutuhkan Doni. Hingga akhirnya Doni bisa kuliah di Politeknik Caltek Riau tersebut. Doni mendapat beasiswa pemprov di semester 2 perkuliahannya. Beasiswa itu terus berlanjut hingga Doni semester akhir. Perjuangannya untuk melanjutkan kuliah berbuah manis.
Satu hal yang selalu di ingat Doni "Saya harus bisa membuktikan kepada semua orang yang memendang rendah saya, bahwa saya akan berhasil. Dan saya akan membuat orang tua saya bangga".
Empat tahun Doni menjalani masa kuliahnya, menyelesaikan kuliah dengan tepat waktu. Dia tidak perlu menunggu lama untuk mendapatkan pekerjaan. Pendidikan vokasi yang diterapkan di Politeknik Caltex Riau memang tepat sasaran. Seperti yang kita tahu pada zaman sekarang ini kita berada pada masa revolusi industri 4.1 yang membutuhkan tenaga kerja yang telah berbekalkan pendidikan vokasional. Kuliah di Politeknik merupakan salah satu alternatif agar bisa bersaing di dunia kerja. Setelah wisuda Doni langsung dapat panggilan kerja oleh suatu perusahaan ternama. Sekarang dia bekerja di posisi Staf Aplication Developer dengan gaji 4,3 juta perbulan.
Bukan komentar orang yang kamu butuh, tapi tekat serta kerja keras lah yang akan membuat mu berhasil.
-----------
Sekian postingan kali ini. Jika ada kesalahan dalam dari cerita dan kosakata penulis mohon maaf yang sebesar-besarnya. Karena penulis pun belum berkeluarga. :D
Di harapkan kritikan, komentar dan saran yang membangun. Terimakasih
#PoliteknikCaltekRiau
#Revolusi_4_0
#Vokasi
#Pendidikan_Vokasi
#Revolusi_4_0
#Vokasi
#Pendidikan_Vokasi
"Menyampah" = sangat banyak.
(Artikel ini sedang diikut sertakan dalam lomba blog PCR 2018)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar